Tumbuh besar di Yogyakarta, gunung Merapi
merupakan kompas. Dimana pun kamu berada, Merapi adalah utara. Bagi kami orang
Jogja, menyadari dimana letak mata angin seperti hal yang natural. Saat hendak
mencari arah kiblat di tempat baru misalnya, jika kamu bingung dimana barat
laut, tinggal lihat saja dimana Merapi. Disanalah utara, maka sholatmu mengarah
beberapa derajat ke arah kiri dari Merapi.
Bagiku yang tumbuh di selatan Jogja, Merapi
selalu hadir dengan gagah setiap pagi di utara, baik saat cerah maupun badai.
Ia seperti monumen segitiga raksasa yang selalu mengawasi, terang-terangan saat
hari cerah maupun malu-malu di balik awan saat mendung.
Hari Minggu lalu, aku naik ke Merbabu. Saat
sampai di puncaknya, untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihat Merapi dari
sisi yang berbeda. Ia terlihat begitu dekat, sampai aku bisa melihat setiap
lekukan di ujung kawahnya. Tapi yang membuatku diam cukup lama bukan jaraknya, melainkan
bagaimana Merapi bisa sangat berbeda dari yang ada di ingatanku. Dilihat dari
ketinggian yang hampir sama di puncak Merbabu, Merapi jadi serupa kerucut ujung
tumpeng, tidak semegah yang selama ini kukenal. Gunung yang puluhan tahun jadi
patokan arah, yang selalu terlihat besar dan mengawasi dari atas, ternyata
hanya soal dari mana aku berdiri. Ada semacam rasa kehilangan yang aneh, seperti
melihat sesuatu yang sangat familiar tiba-tiba jadi asing, dan sesaat aku meragukan
memoriku akan Merapi. Mana yang benar: Merapi yang gagah dari Bantul, atau
Merapi yang kerucut ini.
Merapi ya sejak dulu seperti itu, tidak
berubah bentuk, tidak pindah tempat. Yang berubah hanya tempatku berdiri.
Barangkali begitu juga dengan banyak hal lain yang selama ini kuanggap sudah
pasti bentuknya: seperti apa ia sebenarnya sering kali tergantung dari mana aku
melihatnya.
