Selasa, 07 Juli 2026

From Where I Stand

 


Tumbuh besar di Yogyakarta, gunung Merapi merupakan kompas. Dimana pun kamu berada, Merapi adalah utara. Bagi kami orang Jogja, menyadari dimana letak mata angin seperti hal yang natural. Saat hendak mencari arah kiblat di tempat baru misalnya, jika kamu bingung dimana barat laut, tinggal lihat saja dimana Merapi. Disanalah utara, maka sholatmu mengarah beberapa derajat ke arah kiri dari Merapi.

Bagiku yang tumbuh di selatan Jogja, Merapi selalu hadir dengan gagah setiap pagi di utara, baik saat cerah maupun badai. Ia seperti monumen segitiga raksasa yang selalu mengawasi, terang-terangan saat hari cerah maupun malu-malu di balik awan saat mendung.

Hari Minggu lalu, aku naik ke Merbabu. Saat sampai di puncaknya, untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihat Merapi dari sisi yang berbeda. Ia terlihat begitu dekat, sampai aku bisa melihat setiap lekukan di ujung kawahnya. Tapi yang membuatku diam cukup lama bukan jaraknya, melainkan bagaimana Merapi bisa sangat berbeda dari yang ada di ingatanku. Dilihat dari ketinggian yang hampir sama di puncak Merbabu, Merapi jadi serupa kerucut ujung tumpeng, tidak semegah yang selama ini kukenal. Gunung yang puluhan tahun jadi patokan arah, yang selalu terlihat besar dan mengawasi dari atas, ternyata hanya soal dari mana aku berdiri. Ada semacam rasa kehilangan yang aneh, seperti melihat sesuatu yang sangat familiar tiba-tiba jadi asing, dan sesaat aku meragukan memoriku akan Merapi. Mana yang benar: Merapi yang gagah dari Bantul, atau Merapi yang kerucut ini.

Merapi ya sejak dulu seperti itu, tidak berubah bentuk, tidak pindah tempat. Yang berubah hanya tempatku berdiri. Barangkali begitu juga dengan banyak hal lain yang selama ini kuanggap sudah pasti bentuknya: seperti apa ia sebenarnya sering kali tergantung dari mana aku melihatnya.

Minggu, 22 Juli 2018

Max Havelaar, a little note for myself

Saya sadar betul persepsi dan key takeways akan suatu karya-apapun itu- bervariasi dari orang ke orang. Sering saya jumpai orang lain mempunyai pandangan dan perasaan yang berbeda sekali dengan pandangan dan perasaan saya akan suatu buku, film, dan karya seni lain yang sama-sama kami lihat atau baca. Ya memang bebas to, intepratasi tiap orang kan dipengaruhi oleh pengalaman dan pemahaman masing-masing individu. 

Yang menarik adalah saya baru sadar bahwa persepsi saya-sekarang dan saya-yang-dulu bisa jauh benar bedanya. Jadi, baru-baru ini, saya membaca ulang Max Havelaar. Kalau tidak salah, kali pertama saya membacanya adalah sewaktu saya masih SMP. Yang paling saya ingat dan membekas di benak saya tentang buku itu adalah kisah cinta dan sajak-sajak Saijah dan Adinda. Yo maklumi saja, umur segitu memang lagi klise-klisenya to? Mana pahamlah saya tentang bagaimana pengaruh buku tersebut terhadap gerakan politik balas budi yang santer disuarakan di Eropa waktu itu. Atau mengapa Pramodya Ananta Toer berpendapat Max Havelaar adalah kisah yang membunuh kolonialisme.

Kini, belasan tahun dari pertama kali saya membaca Max Havelaar, ketika konsep feodalisme dan kolonialisme (atau penjajahan) sudah bukan hanya hapalan tanggal dan peristiwa untuk sekedar lulus ujian mata pelajaran sejarah, saya baru paham mengapa buku tersebut sedemikian dibicarakan. Bagi saya pribadi, pengalaman menydari perbedaan sudut pandang dan pemahaman akan Max Havelaar dari Tata-remaja sedikit membuat saya overwhelmed. Lucu juga ya melihat seberapa jauh kita telah berkembang?

Rabu, 13 April 2016

Agree to Disagree

Konon, dalam mendengarkan lagu ada dua tipe orang: yang pertama-tama tertarik karena liriknya dan yang tertarik karena musiknya. Gw most likely tipe yang terakhir. Pada dasarnya, kalau nadanya masuk di kuping gw, mau lirik tentang apa aja gw bawaannya suka sama lagu itu. 

Exhibit A: all Muse songs. 
As you might know, Matthew Bellamy percaya teori konspirasi dan lagu-lagunya banyak yang bertema luar angkasa, lingkungan, politik dan hal-hal lain yang gw sebenarnya ga tertarik. Don't judge me as a heartless bitch, yet. That is why I write this post, I just realize even though I am not really into tema-tema yang Bellamy tulis, I appreaciate it and Muse is still one of my favourite musician ever. 

Ga cuma sampai di musik aja, gw nyadar gw banyak ga setuju sama tulisan penulis favorit gw. Kalau buku ni, banyak pemikiran-pemikiran Ayu Utami yang gw ga setuju. But even so, I love her anyway. Gw beli bukunya karena gw suka cara dia bertutur kata, baik fiksi maupun non-fiksi. Enggak lalu serta merta gw berubah pendapat karena dia, enggak serta merta gw berhenti baca karena beda pendapat dengan dia. 

Contoh lain, blogger favorit gw adalah Herman Saksono. Gw rajin ngikutin blog dan twitternya karena gw suka cara pandang dia terhadap isu-isu sosial dan politik yang lagi hits, but not necessarily I have to agree with his oppinion. Justru gw banyak ga setuju sama dia, tapi membaca postingannya menambah wawasan gw akan opini yang berseberangan, lalu gw putuskan sendiri gw pilih yang mana. Kadang gw tetep ga setuju sama pendapat dia, kadang gw merasa opininya make sense dan setuju. 

Living in a country where everyone think they are a saint, I just came into realization that world (or at least, my country) might be a better place if we can agree to disagree and be cool with it. 

Minggu, 03 April 2016

My Life Lately

Seperti sudah diprediksi sebelumnya, janji manis untuk setia ngeblog nggak terpenuhi. I used to be feel ashamed and disapointed to myself sama hal-hal seperti ini. But who am I kidding? Blog gw, suka-suka gw lah ya. Mungkin gw sudah lebih dewasa dan menerima diri apa adanya, mungkin gw makin ga punya prinsip aja. Who cares?

Since writing is kind of remedy for me, sometimes I feel stuck when everything in my life seems fine. I guess my creativity trigger are sorrow, sadness, loneliness and other negative feelings. I don't know, why should I go deeper on it? It's not like I'm a professional writer. 

Anyhow, I'm in England now, halfway through my 1-year course. My grandma just passed away. This is the first time I hate being stuck here since I started my study six months ago. God only knows I lost so many people in my life in the last 2 years. I feel like a fox in the snow, but I promise I won't let myself hungry now. I won't let myself grow cold!

I know, this post is getting darker and darker. Gotta go to have a proper mourning.


Rabu, 04 Februari 2015

January: Cirebon Party Run

Jadi ceritanya, biar tetep eksis di dunia perlarian yang lagi hits, di awal tahun saya mendeklarasikan my 2015 running goal:
1. Ikut Half Marathon.
2. Tiap bulan berpartisipasi dalam minimal satu running race.

Hahahaha. Ambisius!

So this is a report of my January race: Cirebon Party Run. *cetar *cetar *cetar *konfeti menghambur ke udara

Cirebon party run adalah event lari di Cirebon yang saya ikuti. Sebelumnya saya pernah dengar ada Batik Run dalam rangka memperingati hari batik tahun 2014 kemarin, tapi setelah tahu bayarnya cuma goceng saya mengurungkan niat untuk ikut. Nggak bisa ngebayangin race gocengan bakal kayak apa.

Awal mau ikutan Cirebon party run ini juga sempet ragu, takut ga tahan ngelihat tingkah ababil yang dikumpulin di satu lapangan. Alhamdulillah enggak terbukti, saya sudah bertransformasi menjadi wanita bijak nan arif ternyata.

Jadi, event ini ceritanya colour run ala ala. Bayar 85k (kalo ga cepek, ada beberapa kelas) dapet kaos, kacamata, head band dan color powder. Ga ketinggalan serangkaian nama DJ didapuk jadi bintang tamu. Itu DJ beneran atau abal abal ga ada yang tahu. Pokoknya banyak DJ aja, bakal party-party, ada lomba selfie, mau lari mau ngesot yang penting eksis foto-foto!

Pada hari dan tanggal yang ditentukan, saya datang berbondong-bondong bersama suami dan teman kami, Gondrong. Gondrong cerewet sekali, selain karena harus berangkat abis subuh, mostly karena dia gatelen pakai kostum barunya. Ya, Gondrong yang masih polos bab lari ditipu suami saya untuk sengaja ikut lomba kostum. Niat banget lho, sampai beli surjan, celana gombrong dan blankon. Anak polos yang malang..
Akal bulus suami berhasil, Gondrong menggondol juara 1 outfir contest.
Kami berangkat dari rumah jam 5 lewat, sampai lapangan jam 5.40. Dan anda tahu apa yang kami lihat saudara-saudara? Ya, belum ada orang. Panitianya masih masang banner. Kami pemanasan, pipis, boker, foto-foto, sampai bingung mau ngapain lagi, lomba masih belum aja dimulai. Waktu berjalan lambat, rumput bergoyang, daun berguguran. Orang-orang mulai berdatangan. Ber-haha-hihi bersama rombongan seolah tidak perlu merasa bersalah datang telat seenak jidat. Hih pengen guweh gaplokin satu-satu. 

Yes, we're that lame.

Sembari nunggu, diantara lautan fashion disaster -alay ber-jins, pake sepatu ngaco, full make up dan aksesoris- saya sempatkan memindai potential rival. Hahahaha. Cuma ketemu satu-dua biji mbak-mbak yang pakai baju dan sepatu olah raga properly. Serius. Bisa dimaklumi sih, namanya juga party run ala ala, mungkin orang mikirnya ikutan buat happy happy sama teman dan orang-orang terkasih. Saya-nya aja yang kompetitif ye. :P

Jam 7 lebih dikit akhirnya lomba dimulai. Di garis start rombongan kecil kami bertemu dengan teman-teman suami, total jadi 7 orang. Waaah seruuu. Sempet ragu mau ikutan jalan bareng mereka atau sesuai rencana lari beneran. Tapi akhirnya setelah selfie bareng sekali, saya memutuskan ngacir lari. Suami dan teman-teman seru-seruan bareng, aku seru-seruan sendiri. Hahaha setelah dipikir-pikir agak freak ya. 

Keuntungan lari duluan adalah pas tiba di post color powdernya masih melimpah dan terbebas dari risiko mempergunjingkan tingkah para ababil. Meskipun ternyata event nya tidak seburuk yang saya kira, beberapa catatan untuk panitia antara lain adalah kurangnya marshal dan informasi terkait lokasi dan rute lari. Saya sempet beberapa kali pas sampai di perempatan karena jarang ada marshal dan jalan ga ditutup. Jadi ya rasanya seperti lari di jalan seperti biasa, nggak berasa sedang ikut run race. Jumlah panitia cukup, tapi mereka terkonsentrasi di post color powder.

Saya finish dalam 40 menit. Not my PB karena di aplikasi Nike+ saya jaraknya cuma 4k koma sekian. Ziiiiiing.. area finish masih suepi. Setelah keliling sana sini, tak kuasa diri ini sujud syukur di depan panggung, saya finish nomer dua putrid doooongs! Pencapaian yang luar biasa dalam sejarah karir lari saya. Hahaha, yaiyalah, yang lain jalan santai rame-ramean. Berita baiknya adalah sembari nunggu yang lain pada finish –yang lamanya naudzubillah- saya sempet kenalan dengan sesama finisher yang tak lain tak bukan komunitas indo runners di Cirebon. Jadi, lain kali pas menghabiskan week end di Cirebon udah tau musti kemana kalau mau lari-lari cantik. 
See? masih sepi finish 40menit. Perlu mempertimbangkan berkarir di Cirebon.
Bagian partynya skip aja ya ga usah diceritain. Seru sih, joget-joget sambil lempar-lemparan color powder. Tapi ih, ga ngerti siapa itu yang diatas panggung.

Overall, saya sangat mengapresiasi panitia lomba ini, walaupun ada beberapa kekurangan sana sini. Dengan pengelolaan yang lebih professional, semoga di masa yang akan datang makin banyak event lari serupa.

Cheers.





Selasa, 13 Januari 2015

Lari dari Kenyataan

Hola! Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir berkunjung ke blog ini. Teman datang dan pergi, anak ayam telah tumbuh jadi ayam goreng kaefci, namun saya baru sekarang tergerak nulis lagi. huft. Malu deh liat draft bertumpukan ga jadi diposting, tapi ya dari pada mandeg gini aja yah.

Jadi, yang bikin hasrat nulis muncul lagi adalah.. *drummroll* *engingeng LARI. Well, jogging sih sebenernya. Sejak setahun lalu saya yang dari jaman sekolah musuhan sama lari tiba-tiba suka jogging aja. Awalnya di tritmil, terakhir sampai ikut run race 10K dan berencana njajal Half Marathon tahun ini. Ngahahaha,, kalian boleh ketawa.

Ini aku lagi niat-niatnya sekarang, dari beli perlengkapan lari ini itu sampai ngunduh jadwal latihan. Nah, di salah satu artikel yang aku baca, ada yang sharing tips untuk start a blog buat bantu tetep fokus sama goal kita - it's a half marathon for me. Hahaha. Berhubung saya tau kapasitas saya dalam berkomitmen, kayaknya terlalu lebay to start another blog since I still got two blog with zero post. Jadi tetep nulis, tapi lanjutin dari blog ini ajah, biar kalau mandeg di tengah jalan ga tengsing-tengsin amat.

Here are some topics I'd like to write:
1. Why I Run
2. My MidWeek Running with Tebetian
3. Half Marathon Training Update
4. My goal this year
5. Some tips

Ceilah banyak banget yak. Ngahahaha ga yakin bakal serajin itu nulis. Anyhooowww, promise you I'll try my best to update!

Ciao!

Senin, 17 Juni 2013

Sepatu Jodoh


Suatu kali, aku sangat ingin beli sepatu formal. Sepatu hitam kulit cantik dengan hak 5cm atau lebih. Aku 24 tahun waktu itu dan sepatu di rak didominasi oleh sandal dan flat shoes warna terang berbahan suede. Akhirnya aku pun mendapatkan sepatu impianku di department store, well, sebenarnya dia bukan pilihan pertama, namun sepatu incaran di toko itu sudah kehabisan nomor ukuranku. Sepatu hitam formalku bukan sepatu mahal, bahkan untuk ukuranku yang cuma seorang PNS. Bahannya juga bukan kulit asli, keras sekali. Tapi dia sepatu formal pertamaku.

Sehari aku pakai ke kantor, tungkaiku lecet. Hari kedua kuplester kedua tungkaiku. Begitu seterusnya. Aku kesakitan berjalan dengan sepatu itu. Tapi aku sudah 24 tahun, gadis seumuranku pergi ke kantor memakai sepatu kulit berwarna hitam, bukan crocs tosca seperti sepatu andalanku sebelumnya. Tampaknya tungkaiku terluka cukup parah, saat dua minggu kemudian lecetnya sudah mengering baru aku menyadari tungkaiku benjol. Berwarna merah kehitaman, jelek sekali.

Kini setahun setelah aku membeli sepatu itu, aku kembali mengevaluasi keputusanku. Sepatu itu modelnya tidak terlalu wah, aku tidak pernah benar-benar menyukainya. Tapi aku terlalu memaksakan hingga menyiksa diri. Bekas luka di tungkaiku, benjolan itu, tidak pernah hilang bahkan sampai sekarang. Aku menyesal. Aku ingin sekali membuang sepatu itu, tapi rasanya sudah basi bersikap labil laiknya abg.

Aku tertawa getir ketika mengingat minggu pertamaku memakai sepatu kulit berwarna hitam itu, aku membuat filosofi baru (kuunggah di tumblr ku): sakit hati itu seperti sepatu baru, menyiksa di hari pertama. Tapi tunggu seminggu, dia akan menyesuaikan dengan kakimu. Hahaha, cliché. Setelah seminggu sepatuku memang tidak membuatku kesulitan berjalan, tapi seperti kubilang bekas lukanya tak pernah hilang.

Sore ini terlintas di pikiranku, kayaknya ada ya hubungan dua orang seperti hubunganku dengan sepatu itu. Suatu kali kamu menetapkan standar kepantasan bagi calon pendampingmu karena kamu merasa sudah seperti itulah seharusnya. Kamu 24 tahun, dan semua orang di kantormu memakai sepatu formal. Maka kamu mencari sepatu kulit hitam itu, saat model favoritmu tidak mempunyai nomor kakimu, kamu akan coba model kedua dan seterusnya. Secara tidak sadar saat kita dewasa, kriteria calon pendamping kita berubah, sebut saja kemapaman, bibit bobot bebet (ini orang jawa aja), pekerjaan, tanggung jawab, blablabla. Padahal taruhan deh, pasti ada masa-masa kita naksir gitu ya sama cowok berandalan kerjaannya bolos sekolah (tapi kalo ga lucu sih ga bakal naksir juga sih).

Terus itu salah?

Ya enggak juga. Aku sadar, aku ga bisa pake crocs terus ke kantor karena emang gak pantes kalo dipikir-pikir. Yang penting, ga usah ngoyo lah. Kalo sepatu formal hitam kulit impianmu ga ada ukuran yang cocok, cari di tempat lain sampai nemu yang sreg di hati. Jangan mekso dengan yang kurang pas di hati. Gitu juga urusan jodoh.


Psst, spoiler.. Pada akhirnya beberapa bulan setelah aku beli sepatu itu, musim berganti tahun bergulir, aku dapet sepatu kulit hitam mahal, kali ini kulit asli, dengan model simple tapi bagus banget dipake di kaki, GRATIS. Ya gitu deh hidup. Kadang emang bikin geleng-geleng.